Situs Humor Untuk Dewasa
Seorang ahli matematika, fisikawan, dan insinyur semua diberi bola karet merah dan diperintahkan untuk mencari volume bola tersebut.
Matematikawan dengan hati-hati mengukur diameter dan mengevaluasi integral pangkat tiga.
Fisika itu mengisi gelas dengan air, memasukkan bola dalam air, dan mengukur perpindahan total.
Insinyur mengetahui volume bola dengan membaca model dan nomor seri di bola karet merah tersebut.
Menghadapi putranya yang selalu malas belajar dan sekolah, seorang ibu lalu mengajaknya menonton sebuah film silat yang memperlihatkan usaha perjuangan tokohnya agar dapat dijadikan contoh dan teladan bagi putranya tersebut. Film itu mengisahkan seorang pendekar yang pada akhir cerita menjadi sakti dan terkenal karena giat berlatih, penuh semangat, dan tidak kenal lelah sedikit pun.
“Begitulah jadi manusia,” kata sang ibu. “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Rajin pangkal pandai!”
“Tapi,” kata putranya, “Pendekar itu tidak pernah mendapat pekerjaan rumah, belajar matematika, sejarah, dan geografi kan, Bu?”
Suatu hari, aku pergi ke bioskop. Di baris depanku ada seorang tua dan anjingnya. Filmnya lucu dan sedih. Di adegan film yang sedih, anjing itu menangis tersedu-sedu, dan di adegan yang lucu, anjing itu tertawa terbahak-bahak. Begitu terus sampai filmnya selesai. Setelah filmnya selesai, aku mendekati orang tua itu.
“Wah Pak, baru kali ini saya melihat kejadian sepeti tadi!” ujarku. “Anjing Anda kelihatannya suka sekali filmnya.”
Orang tua itu lalu menyahut, “Iya tuh. Padahal dia benci bukunya lho.”
Anak dan bapak sedang menonton film empat dimensi yang pengaturan tempatnya di bulan. Serulah pastinya. Setelah film itu selesai ditonton, sang ayah bertanya pada si anak,
“Nak, film tadi bagus, ya? Apakah kamu ingin jadi penjelajah di bulan?”
“Tidak mau, ah. Aku takut. Soalnya bentuk bulan kan tidak pernah tetap.”
Bobi: “Min, dengan apa kau berangkat ke kantor?”
Amin: “Lari.”
Bobi: “Wah, hebat sekali. Nggak takut terlambat?”
Amin: “Nggak. Cuma, aku sering dimarahi kondektur. Katanya, ‘Di dalam bus kota dilarang lari-lari!’”
Pak Kurdi dengan geram memanggil pelayan restoran.
“Ayam apa ini! Cuma kulit dan tulang saja!”
“Ini bukan kemauan kami, Pak. Sekarang memang trennya, semua ayam melakukan diet supaya kurus.”
Karena sudah sering terkena pemadaman listrik, Pak Bejo menelepon PLN, mau protes keras!
Bejo: “Kenapa listrik mati-mati terus? Sudah merusak 1 radio dan 1 TV saya! Memangnya siapa yang mau ganti?”
Petugas: “Maaf, Bapak salah sambung.”
Bejo: “Bukan cuman TV, udah banyak lampu yang tidak mau nyala di rumah. Kulkas juga sudah hampir rusak. Kamu kira ada uang jatuh dari langit untuk membeli barang-barang itu?”
Petugas: “Maaf, Bapak salah sambung. Ini bukan PLN, ini PELNI, Pak.”
Pak Bejo kaget. Sudah teriak-teriak ternyata salah sambung. Tapi biar tidak malu, Pak Bejo ngeles.
Bejo: “Iya saya tahu! PELNI juga sama saja! Kita beli tiket untuk berangkat pukul 2 sore, eh pukul 10 malam kapalnya baru berangkat!”
Seorang teknisi meninggalkan kantor jam 6 sore ketika dia bertemu direktur berdiri di depan mesin menghancur kertas dengan sebuah kertas di tangannya.
“Dengarkan,” kata direktur, “Ini sangat penting, dan sekretaris saya sudah pulang. Apakah kamu bisa membuat alat ini bekerja?”
“Tentu saja,” kata teknisi muda itu. Dia menyalakan mesinnya, memasukkan kertas, dan menekan tombol start.
“Wah, mantap sekali!” kata direktur ketika melihat kertasnya masuk ke mesin itu, “tadi itu dokumen penting satu-satunya, dan saya memerlukan 1 copy.”
Teknisi: “???”
Dua orang pengacara naik pesawat menuju Jakarta. Satu duduk dekat jendela dan satu lagi duduk di kursi tengah. Beberapa saat sebelum tinggal landas, seorang dokter masuk pesawat dan duduk di kursi bersama-sama dengan dua pengacara tersebut.
Sang dokter melepas kedua sepatunya dan duduk ketika salah satu pengacara yang duduk dekat jendela berkata, “Sepertinya saya ingin minum cola.”
“Jangan kuatir,” kata dokter, “Saya akan mengambilkannya untuk Anda.”
Ketika dia pergi, salah seorang pengacara itu mengambil sepatu sang dokter dan meludahinya. Ketika dia kembali dengan segelas coke, pengacara yang satunya berkata, “Sepertinya itu bagus, dan saya berpikir ingin minum itu juga.”
Sekali lagi, sang dokter menawarkan diri untuk mengambilkan cola, dan ketika sang dokter pergi pengacara yang satu tadi meludah di sepatu satunya.
Sang dokter kembali dan mereka semua duduk menikmati perjalanan. Ketika pesawat sudah mendarat, dokter tersebut memasukkan kakinya ke dalam sepatu dan akhirnya menyadari apa yang terjadi.
“Apa yang terjadi?” kata dokter, “Ini perkelahian antar profesi? Apakah ini suatu kebencian? Atau terjadi emosi, sehingga kita saling meludah di sepatu dan kencing di gelas cola?”
Pasien: “Saat saya selesai dioperasi, Suster, saya mendengarkan doter bedah menggunakan sebuah kata yang membuat saya sangat sedih.”
Suster: “Kata apa itu?”
Pasien: “Waduh!”
