Twitter
YouTube
Facebook

Lagu-lagu yang Membuat Bangsa Indonesia Tidak Maju.

Karena rakyat Indonesia sejak dini sudah didoktrin dengan lagu2 yang tidak bermutu & mengandung banyak kesalahan, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi.

mari kita buktikan :

“Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang…kalo berjalan prok..prok.. prok… aku seorang kapiten!”

Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi).
Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : “mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang).. kalo berjalan prok..prok.. prok..”
nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi : “mempunyai pedang panjang… kalo berjalan ndul..gondal. ..gandul.. atau srek.. srek.. srek..” itu baru sesuai dengan kondisi pedang panjangnya!

“Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru… meletus balon hijau, dorrrr!!!”

Perhatikan warna-warna kelima balon tersebut, kenapa tiba-tiba muncul warna hijau? Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 ! -

“Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..”

Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!

“Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali..kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X”

Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yang tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau berbuat apa, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju-maju!

“Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung .. Surabaya..bolehlah naik dengan naik percuma..ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama”

Nah, yang begini ini yang parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa maunya gratis melulu. Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta-Malang danJakarta-Surabaya!

“Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu..mengangguk-ngangguk sambil bernyanyi tri li li..li..li..li..li..”

Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak-anak akan realita yang sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit ! kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang (catatan: acara lagu anak-anak dengan presenter agnes monica waktu dia masih kecil adalah Tra la la trili li!), bukan burung!

“Pok ame ame.. belalang kupu-kupu.. siang makan nasi, kalo malam minum susu..”

Ini jelas lagu dewasa dan tidak konsumsi anak-anak! karena yang disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!

“Nina bobo nina bobo oh nina bobo… kalau tidak bobo digigit nyamuk”

menurut psikolog: jadi sekian tahun anak-anak indonesia diajak tidur dengan lagu yang penuh nada mengancam.

“Bintang kecil dilangit yg biru…”

(Bintang kan adanya malem, lah kalo malem mang warna langitnya biru?)

“Ibu kita Kartini…harum namanya”

(Namanya Kartini atau Harum?)

“Pada hari minggu..naik delman istimewa kududuk di muka”

(Nah, gak sopan khan..masa duduk di muka??)

“Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…”

(kalo mau nanam jagung, ngapain dalam-dalam emang mo bikin sumur?

Incoming search terms:

Execuitve Nudist Club

Alkisah Ngkoh AHONG nyang orang kaye satu kali timbul jiwa petualangannya, penasaran ama kata orang ada Executive Nudis Club, akhirnya dia datangi itu tempat.
Pas masuk tempatnya mewah banget, lengkap! mulai dari SPA, Fitness, Billiard, Disco, Karaoke sampe Cafe *beer* ada disana. Dan ternyata bener resepsionisnya aja bugil!
Disana dia dijelasin kalo disana bebas pake semua fasilitas tapi harus bugil.
Singkat cerita join lah Ngkoh AHONG nyoba member 1 bulan dulu.
Selesai urusan administrasi, Ngkoh AHONG langsung jalanĀ² liatĀ² fasilitas (bugil so pasti)
Pas lewat kolam renang dari depan jalan cewe semok banget, ngga sadar Ngkoh AHONG ‘ereksi’ pas papasan ama tu cewe.
Tiba2 tu cewe balik badan tanya “Kamu ngajak saya?”.
Ngkoh AHONG bingung gelagapan. Kata tu cewe “Kamu pasti orang baru ya, disini peraturannya kalo ereksi artinya ngajak”. Digeret lah Ngkoh AHONG kepinggir kolam renang dan terjadilah urusan orang dewasa disana.
Selesai ‘urusan, Ngkoh AHONG ngaso di sauna sambil senyum2 inget kejadian barusan, ngga sadar dia kentut.
Tiba2 nongol cowo gede banget, brewok, tato’an pula, dia tanya “Lu ngajak gue?”.
Ngkoh AHONG bingung gelagapan. Kata tu cowo “Lu pasti orang baru ya, disini peraturannya kalo kentut artinya ngajak”.
Ngkoh AHONG digeret kepojok sauna, disuruh nungging dan terjadilah ‘bonga-bonga’
Selesai kejadian, Ngkoh AHONG turun ke resepsionis komplen, katanya “Gua keluar, batal jadi member”.
Kata resepsionis “Wah ga sayang Koh, belon juga sehari..uang member sebulan 8jt angus loh Ngkoh”.
“Bodo…., gua keluar!!”. kata Ngkoh AHONG.
kata Ngkoh AHONG. “Umur gua udah chitcap (70th) lebih, paling banter gua ereksi seminggu sekali…..tapi gue kentut sehari bisa 20 kali…..berabe bener dah!”

Incoming search terms:

Saya sudah tahu semuanya

Di sekolah, Sutiyoso diberitahu oleh teman sekelasnya, bahwa sebagian besar orang dewasa pasti menyembunyikan sekurang-kurangnya satu rahasia, dan bahwa mudah sekali memeras mereka dengan mengatakan, ‘Saya sudah tahu semuanya’.
Sutiyoso kembali ke rumah dan memutuskan untuk mencobanya.
Ketika ia tiba di rumah, sambil memberi salam kepada ibunya, ia mengatakan,”Saya sudah tahu semuanya.”
Ibunya segera memberinya 20 ribu rupiah dan berkata, “Jangan ceritakan pada ayahmu!”.
Kemudian dengan sabar, anak itu menanti ayahnya pulang kerja, dan menyalaminya dengan berkata,”Saya sudah tahu semuanya.”
Ayahnya cepat-cepat memberinya 50 ribu rupiah dan berkata, “Tolong jangan katakan apa-apa pada ibumu!”
Pada hari berikutnya, ketika Sutiyoso mau berangkat ke sekolah, ia bertemu dengan supir ayahnya di pintu depan. Anak itu menyalaminya sambil berkata,
“Saya sudah tahu semuanya.”
Supir itu segera berjongkok, mengulurkan tangannya dan berkata,
“Kemari, nak! Peluklah ayahmu ini!”

Kebohongan Terbesar & Anak Kecil Yang Jadi Korbannya

Lagu anak-anak yang populer ternyata
mengandung kesalahan, mengajarkan
kerancuan,
dan menurunkan motivasi.

mari kita buktikan :

1. “Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya…
merah,
kuning, kelabu.. merah muda dan biru…
meletus
balon hijau, dorrrr!!!”
Perhatikan warna-warna kelima balon tsb.,
kenapa tiba2 muncul warna hijau ? Jadi jumlah
balon sebenarnya ada 6, bukan 5 !
bukti kalo sejak kecil anak2 di indonesia
sudah diajarkan korupsi
punya balon warna hijau tapi disembunyiin

2. “Aku seorang kapiten… mempunyai pedang
panjang…
kalo berjalan prok..prok..prok… aku seorang
kapiten!”
Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang
pedangnya,
tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya
(inkonsis- tensi). Harusnya dia tetap konsisten,
misal jika ingin cerita tentang sepatunya
seharusnya dia bernyanyi : “mempunyai
sepatu
baja (bukan pedang panjang)…
kalo berjalan prok..prok..prok..” nah, itu baru
klop! jika ingin cerita tentang pedangnya,
harusnya dia bernyanyi : “mempunyai pedang
panjang… kalo berjalan ndul..gondal..gandul..
atau srek.. srek.. srek..” itu baru sesuai dg
kondisi pedang panjangnya!

3. “Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa
menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu..
membersihkan tempat
tidurku..”
Perhatikan setelah habis mandi langsung
membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat
anak-anak tidak bisa terprogram secara baik
dalam
menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-
buru.
Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju
dulu
dan tidak langsung membersihkan tempat tidur
dalam kondisi basah dan telanjang!

4. “Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi
sekali..
kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara..
2X”
Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan
konsen-trasi, semangat dan motivasi! Pada
awal
lagu terkesan semangat akan mendaki gunung
yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah
melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi
bingung
dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh
ke
kiri ke kanan aja, gak maju2!

5. “Naik kereta api tut..tut..tut.. siapa hendak
turut ke Bandung.. Sby.. bolehlah naik dengan
naik percuma..
ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti
lama”
Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-
anak
kalo sudah dewasa maunya gratis melulu.
Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur
Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya!

6. “Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang
berbunyi..
bersiul2 sepanjang hari dg tak jemu2..
mengangguk2
sambil bernyanyi tri li li..li..li..li..li..”
Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan
kepada anak2 akan realita yg sebenarnya.
Burung
kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit..cuit.
.!
kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang,
bukan burung!

7. “Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang
makan nasi, kalo malam minum susu..”
Ini jelas lagu dewasa dan untuk konsumsi
anak2! karena yg disebutkan di atas itu adalah
kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Kalo
anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi
gak pagi gak malem ya minum susu!

8.Waktu gw seminar kesulitan belajar pada anak
dikasih contoh lagu nina bobo nina bobo oh
nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk
menurut psikolog: jadi sekian tahun anak2
indonesia diajak tidur dgn lagu yg
“mengancam”

9.Bintang kecil dilangit yg biru…(Bintang khan
adanya malem,lah kalo malem bukannya langit
item?)

10.Ibu kita Kartini…harum namanya.(Namanya
Kartini
atau Harum?)

11.Pada hari minggu..naik delman istimewa
kududuk di muka.(Nah,gak sopan khan..)

12.Cangkul-cangkul,cangkul yang dalam,
menanam
jagung dikebun kita…(kalo mau nanam
jagung,ngapain dalam-dalam emang mo bikin
sumur ~_~!)

Incoming search terms:

Pengantin Baru

Cerita ini berasal tanah Minang Kabau nan terletak di kaki Gunung Merapi.
Disebuah desa hiduplah dua anak manusia yang baru beranjak dewasa, Dikarnakan hubungan meraka sudah terlalu akrab dan sudah dianggap tidak wajar lagi, maka kedua orang tua bermaksud menikahkan kedua anak manusia tersebut. Pertemuan demi pertemuan sudah menetapkan hari H-nya. Dimalam pertama hari pernikahannya tidurlah kedua mempelai diatas peraduannya tanpa melakukan apa-apa. Fajar diufuk timur sudah mulai keluar dan ayampun sudah berkok, tandanya hari sudah siang.
Dipagi nan indah itu datanglah Ibu dari mempelai laki-laki ingin menanyakan pada anaknya:
Ibu : Udin, kau apakan si upik tadi malam
Udin : Ndak ado do mak, kami lalok sajonyo (Tidak diapa-apikan, kami tidur saja)
Ibu : Bisuak malam wa’ang tidua di ateh siupik (Besok malam kamu tidur diatas siUpik)
Malam kedua Karna ingat pesan dari ibunya tanpa basa-basi siudin naik ketempat tidur dan lansung menaiki Istrinya (tidur diatas perut istrinya), karna sudah taktahan menahan sakit siupik menjerit-jerit, namun siUdin tetap tidur diatas perut istrinya samapai pagi. Dan esok pagi Ibunya datang lagi menanyakan: Ibu :
Udin, Ba’a lai lamak rasonyo?, ba’a kato siUpik (Udin, Gimana enak rasanya?, apa kata siupik?)
Udin : Kalau Udin memang lamak Mak, tapi siupiak mamakiak-makiaknyo (Kalua udin memang enak, tapi siupik menjerit-jerit karna kesakitan)
Ibu : Wa’ang apoan memangnyo (Kamu apakan sebenarnya)
Udin : Lalok ajonyo diateh paruiknyo tu (Cuma tidur diatas perut dia)
Ibu : Bodoh wa’ang (Bodoh kau) Pada siangnya Dengan rasa kasihan pada anak-anaknya maka siIbu ambil jalan pintas untuk mengajari SiUdin anaknya, bagaimana caranya orang berumah tangga (bersebadan), terjadilah dialok:
Ibu : Udin, beko malam sabalun lalaok wa’ang sabuikan PESAWAT SIAP MENDARAT baulang ulang. (Udin, nanti malam sebelum tidur kamu bilang sama siUpik PESAWAT SIAP MENDARAT berulang-ulang)
Udin : Jadih mak. (Baiklah Mak)
Malam Ketiga Jarum jam sudah menunjukan pukul 10 malam, maka kedua penganten itu memasuki kamar tidurnya, Sifat udin yang tidak pelupa akan nasehat Ibunya maka sebelum tidur si Udin mengucapkan PESAWAT SIAP MENDARAT, PESAWAT SIAP MENDARAT, PESAWAT SIAP MENDARAT, namun tak ada respon dari si Upik karna dia tidak dijari untuk menjawab apa oleh Ibu siudin Pagi harinya Ibu udin datang lagi dan menanyakan apa tanggapan siUpik,
Ibu : Udin, ba’a kato siupik mandangan kecek wa’ang (Udin, apa kata siupik mendengar ucapan kau)
Udin : Diam sajo inyo mak, lah bosan awak mengecek itu tapi inyo diam sajo (Diam saja dia Mak, Sudah bosan Udin ucapkan kata-kata itu)
Siang harinya Ibu Udin datang menemui Siupik untuk mengajarinya, maka terjadi dialok;
Ibu : Upik, kalu siUdin mangecekan PESAWAT SIAP MENDARAT, mako Upik jawab LANDASAN SIAP MENERIMA. (Upik, kalua Siudin ucapkan kata PESAWAT SIAP MENDARAT, maka Upik jawab LANDASAN SIAP MENERIMA)
Upik : Jadilah Mak (Baiklah Mak) Malam keEmpat
Malam ini bertepatan dengan malan minggu, jadi penganten ini agak lambat tidurnya. Malam telah larut sekitar jam 12an pasangan ini memasuki kamar tidurnya. Sudah sekian lama mereka berbareng ditemap tidur namun siUdin tidak pernah mengatakan PESAWAT SIAP MENDARAT, maka siUpik ambil ini siatif untuk mengatakan LANDASAN SIAP MENERIMA 3x, dengan tegasnya siUdin menjawab
PESAWAT RUSAK!!!!!!.

Incoming search terms:

Rahasia Orang Dewasa

Di sekolah, Sutiyoso diberitahu oleh teman sekelasnya, bahwa sebagian besar orang dewasa pasti menyembunyikan sekurang-kurangnya satu rahasia, dan bahwa mudah sekali memeras mereka dengan mengatakan, ‘Saya sudah tahu semuanya’.

Sutiyoso kembali ke rumah dan memutuskan untuk mencobanya.

Ketika ia tiba di rumah, sambil memberi salam kepada ibunya, ia mengatakan,”Saya sudah tahu semuanya.”

Ibunya segera memberinya 20 ribu rupiah dan berkata, “Jangan ceritakan pada ayahmu!”.

Kemudian dengan sabar, anak itu menanti ayahnya pulang kerja, dan menyalaminya dengan berkata,”Saya sudah tahu semuanya.”

Ayahnya cepat-cepat memberinya 50 ribu rupiah dan berkata, “Tolong jangan katakan apa-apa pada ibumu!”

Pada hari berikutnya, ketika Sutiyoso mau berangkat ke sekolah, ia bertemu dengan supir ayahnya di pintu depan. Anak itu menyalaminya sambil berkata,

“Saya sudah tahu semuanya.”
Supir itu segera berjongkok, mengulurkan tangannya dan berkata,

“Kemari, nak! Peluklah ayahmu ini!”

Incoming search terms:

Abu Nawas Melawan Arus.

Abu Nawas orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M di Baghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang Badui Padang Pasir. Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab. Ia juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. Ia sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad.

Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia. Abu Nawas dipanggil ke istana. Ia diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo’akannya.

Maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya. Namun, demi mendengar rencana sang Sultan. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila. Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya. Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.

Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita. Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya.

Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas. “Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana.” kata Wazir utusan Sultan.

“Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya.” jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.

“Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu.”

“Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar.” kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan. Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas.

“Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?” kata wazir. “Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau.” kata Abu Nawas.

“Apa maksudnya Abu Nawas?” tanya wazir dengan rasa penasaran. “Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu.” segera Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.

Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid. Dengan geram Sultan berkata, “Kalian bodoh semua, hanya menhadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa!”

Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hariapan raja. Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilot bahkan tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hariapan seorang raja. “Abu Nawas bersikaplah sopan!” tegur Baginda.

“Ya Baginda, tahukah Anda?”
“Apa Abu Nawas…?”
“Baginda… terasi itu asalnya dari udang !”
“Kurang ajar kau menghinaku Nawas !”
“Tidak Baginda Siapa bilang udang berasal dari terasi?” Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya. “Hajar dia! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali.”

Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar. Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.

“Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?”

“Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepada tadi?”

“Iya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?”

“Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!”

“Wah ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda.”

Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali. Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila. Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya. Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.

“Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang telah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda.”

Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hariapan Baginda ia ditanya.

“Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?”

Berkata Abu Nawas, “Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu.”

“Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang ftu?” tanya Baginda.

“Tuanku,” kata Abu Nawas, “Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya; Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya.”

“Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian seperti itu dengan Abu Nawas?” tanya Baginda. “Benar Tuanku,” jawab penunggu pintu gerbang. “Tapi, hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan.”

“Hahahahaha…! Dasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!” sahut Baginda. “Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan memecat dan menghukum kamu!”

“Ampun Tuanku,” sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar. Abu Nawas berkata, “Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba.” Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tba ia tertawa terbahakbahak,

“Hahahaha… jangan kuatir Abu Nawas. “Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira. Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan. Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya.

“Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak ku angkat sebagai kadi?”

Wazir atau perdana meneteri berkata, “Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi.”

Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama. “Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi.”

“Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja.” Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad. Konon dalam suatu pertemuan besar ada seseorang bemama Polan yang sejak lama berambisi menjadi Kadi. Ia mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya.

Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan. “Alhamdulillah… aku telah terlepas dari balak yang mengerikan. Tapi, sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja.”

Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:

Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggil Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai. Berkata bapaknya,

“Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku.” Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. Ia cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.

“Bagamaina anakku? Sudah kau cium?”
“Benar Bapak!”
“Ceritakankan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku ini.”
“Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi… yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?”
“Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?”
“Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini.”

Berkata Syeikh Maulana. “Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jia kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan mengalami hal yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi.”

Nah, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

Incoming search terms:

CopyRight 2011 - CeritaLucu.org