Twitter
YouTube
Facebook

Archive for the ‘Cerita lucu Sufi’ Category


Menuang Gandum yang Bukan Miliknya.

Nasrudin kedapatan sedang menuang gandum milik tetangganya ke dalam karung gandumnya di toko koperasi. Akhirnya ia dibawa ke pengadilan. “Saya memang bodoh. Saya tidak bisa membedakan antara gandum mereka dengan gandum saya,” katanya. “Kalau begitu kenapa tidak kau tuangkan saja gandummu ke kantong orang lain?” tanya hakim. “Tapi saya bisa membedakan yang mana gandum saya [...]

Read More...

Membantu Orang Membayar Hutang.

“Saudaraku,” kata Nasrudin kepada seorang tetangga, “aku sedang mengumpulkan uang untuk membayar utang seorang laki-laki yang amat miskin, yang tidak mampu memenuhi tanggung jawabnya.” “Sikap yang amat terpuji,” komentar tetangga itu, dan kemudian memberinya sekeping uang. “Siapakah orang itu?” “Aku,” kata Nasrudin sambil bergegas pergi. Beberapa minggu kemudian Nasrudin muncul lagi di depan pintu tetangganya [...]

Read More...

Naik Kapal yang Mau Tenggelam.

Kapal tampaknya mulai tenggelam. Para penumpang yang sebelumnya menertawakan peringatan Nasrudin yang meminta mereka agar bersiap-siap untuk kehidupan akhirat, mulai berlutut dan berteriak-teriak minta tolong. Mereka berdoa, mereka berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan jika mereka selamat. “Teman-teman!” teriak Nasrudin. “Jangan boros dengan kata-kata bagus itu. Percayalah! Aku melihat daratan!” “Hah?” semua penumpang membelalak. “Apa? [...]

Read More...

Saya Bukan Sayuran.

Suatu kali Nasrudin menjadi orang penting di istana. Ia gunakan posisinya ini untuk menunjukkan cara mengatur orang-orang di dalam istana. Suatu hari Raja merasa lapar sekali. Beberapa tukang masak menyajikan hidangan yang luar biasa enaknya, sehingga Raja meminta Kepala Istana untuk menyiapkan makanan seperti itu setiap hari. “Bukankah ini sayuran terbaik di dunia, Mullah?” tanya [...]

Read More...

Nasrudin Pergi Bercukur.

Nasrudin dianggap sebagai guru sufi bahkan ia dipanggil sebagai Mullah, hal ini menujukkan dia memang berilmu. Pada suatu hari -Nasrudin pergi ke tukang cukur. Sialnya si tukang cukur bekerja amat lamban karena pisaunya tumpul. Setiap kali pipi Nasrudin tergores hingga berdarah. Tukang cukur cepat ceoaf mengambil sejumput kapas dan meletakkannya pada luka itu. Hal ini [...]

Read More...

Abu Nawas Akan Dihukum Pancung.

Cita-cita atau obsesi menghukum Abu Nawas sebenarnya masih bergolak, namun Baginda merasa kehabisan akal untuk menjebak Abu Nawas. Seorang penasihat kerajaan kepercayaan Baginda Raja menyarankan agar Baginda memanggil seorang ilmuwan-ulama yang berilmu tinggi untuk menandingi Abu Nawas. Pasti masih ada peluang untuk mencari kelemahan Abu Nawas. Menjebak pencuri harus dengan pencuri. Dan ulama dengan ulama. [...]

Read More...

Abu Nawas Masuk Penjara.

Abu Nawas masih mengeram di penjara. Namun begitu Abu Nawas masih bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan memakai tangan orang lain. Baginda berpikir. Sejenak kemudian beliau segera memerintahkan sipir penjara untuk membebaskan Abu Nawas. Baginda Raja tidak ingin menanggung resiko yang lebih buruk. Karena akal Abu Nawas tidak bisa ditebak. Bahkan di dalam penjara pun Abu Nawas [...]

Read More...
CopyRight 2011 - CeritaLucu.org